Sabtu, 02 Juni 2012

Hukum Air Mani dan Madzi


PERTANYAAN:
Assalamu’alaikum wr.wb.

Alhamdulillahirobbil‘alamin, kolom tanya jawab/konsultasi di buletin ALQUDWAH sudah ada alamat emailnya, sehingga lebih mudah bagi saya untuk dapat mengirimkan pertanyaan lewat surat elektronik ini, padahal sudah lama saya ingin mengajukan pertanyaan ke rubrik ini, pertanyaannya sebagai berikut :


  1. Apakah cairan bening yang keluar dari farji sebelum atau sesudah ejakulasi sama dengan sperma/mani?

  2. Apakah ketika cairan tersebut keluar saya harus mandi wajib?

  3. Apakah cairan tersebut najis dan apa yang harus dilakukan jika cairan tersebut menempel di kain, syah apa tidak jika kain tersebut dipakai untuk sholat.?

  4. Apakah juga dapat membatalkan wudlu?

  5. Terkadang saya pernah mengalami keluarnya cairan terebut diluar kesadaran, pernah suatu ketika saya sedang sholat,cairan tersebut keluar, tapi hal itu saya ketahui setelah sholat ketika akan buang air kencing, cairan tersebut sudah melekat di celana dalam saya, apakah sholat saya batal dan harus mengulang lagi atau bagaimana ?

  6. Apa bedanya antara MADHI dan WADHI?

Mohon penjelasannya secara detil, masalahnya kadang saya masih timbul keraguan akan hal ini, atas jawaban dan penjelasannya saya ucapkan terima kasih yang sebanyak2nya.

Wassalamu’alaikum wr wb.



JAWABAN;

Wa ‘alaikumussalam wr wb.

Semua petanyaan yang diajuan penanya berkisar pada tiga hal, yakni air mani, madzi dan wadhi beserta hukum yang terkait dengannya.

Ulama Syafi'iyah, memberikan ciri-ciri yang membedakan antara ketiga jenis diatas:

1.      Air mani, adalah cairan putih yang kental dan keluarnya muncrat (jika banyak) di saat nafsu sudah mencapai puncak (klimak) dan ciri-cirinya antara lain:

a.       Keluarnya muncrat (seperti ada tekanan dari dalam).

b.      Terasa nikmat disaat keluar dan dibarengi lesu, meskipun keluarnya tidak muncrat atau keluar dengan warna agak kemerah-merahan, dan ini biasanya apabila sedikit.

c.       Jika basah maka baunya seperti aroma adonan tepung, dan jika kering seperti bau putih telur ayam, meskipun disaat keluar tidak terasa nikmat.

2.      Madzi, adalah cairan yang agak putih dan lebih cair dari mani dan biasanya keluar di saat bercumbu, atau setelah penis loyo (tidak disaat tegang) setelah bersenggama.

3.      Wady, adalah cairan yang biasanya keluar di saat kelelahan (bekerja) atau cairan putih yang keluar setelah selesai buang air kecil.

Dari ketiga jenis air tersebut, air madzi dan wadhi adalah najis. Sedangkan air mani bukanlah najis. Jika keluar cairan berupa madzi atau wadhi, maka hal itu tidak menyebabkan wajib mandi. Cukup membersihkan najis itu dan berwudhu. Sedangkan jika seseorang mengeluarkan air mani, maka dia wajib mandi.



Dari keterangan di atas, dan untuk memperjelas satu persatu pertanyaan anda, maka:


  1. Cairan bening yang keluar dari farji sebelum atau sesudah ejakulasi bukanlah sperma/mani. Ia adalah madzi

  2. Jika cairan tersebut keluar sebelum bersenggama dan keluarnya tidak dengan kenikmatan seperti halnya keluar mani, maka tidak wajib mandi. Adapun jika keluar setelah bersenggama maka wajib mandi karena senggamanya, baik keluar mani atau tidak. Cairan tersebut (madzi) adalah najis, dan tidak sah sholat seseorang menggunakan kain yang terkena cairan tersebut. Akan tetapi dalam membersihkannya, ia lebih ringan dibanding najis lain. Seperti sabda Rasulullah saw: Diriwayatkan dari Sahl bin Hanif, ia berkata,  "Saya  merasa melarat  dan  payah  karena  sering  mengeluarkan  madzi dan mandi, lalu saya adukan  hal  itu  kepada  Rasulullah  saw., kemudian   beliau  bersabda,  'Untuk  itu,  cukuplah  engkau berwudhu.' Saya bertanya, Wahai Rasulullah, bagaimana dengan yang  mengenai  pakaian  saya?  Beliau  menjawab,  'Cukuplah engkau mengambil air setapak tangan,  lalu  engkau  siramkan pada  pakaian  yang terkena itu.'" (HR Abu Daud, Ibnu Majah, dan Tirmidzi. Beliau berkata, hasan sahih)

  3. Benar, keluarnya cairan tersebut dapat membatalkan wudhu sebagaimana hadits di atas.

  4. Jika cairan itu diyakini keluarnya dalam keadaan shalat, atau sebelum shalat kemudian tetap melaksanakan shalat, maka ia harus mengulangi shalatnya. Namun jika ia ragu apakah keluarnya saat shalat atau sesudah shalat, maka shalatnya sah dan tidak perlu diulangi.

  5. Perbedaan antara air Madzi dan Wadhi dapat dilihat pada jawaban pada point 3 di bagian pertama jawaban ini



Wallahu a’lam bish-showab


Muhammad Jamhuri

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar